RUANG HATI DAN IMAJINASI

BERIKAN HATIMU RUANG DAN BIARKAN IMAJINASIMU DATANG

Monday, December 28, 2009

kebengisan masa lalu

Ku ingin berlari ke hutan

Karena aku lelah dikejar pengkhianatan

Aku ingin tenggelam di laut

kelak perih ini kan surut,

tergerus arus..


Aku ingin terdampar di pantai

muak terombang-ambing badai,,


Kebengisan masa lalu

aku hanya ingin mengusap peluh langit berselancar ditubuhku
menyelami setiap lekuknya, dan tenggelam kedalamnya,

aku ingin mendengar alunan angin berirama ditelingaku
sebuah melodi gusar pekerja rodi,

aku suka menghirup udara pagi bernafas dijantungku
aku tenang melihat bintang berjatuhan dimataku
dan aku tak keberatan panas surya menghangus-hitamkan kulitku

namun aku tak sudi ingatan itu menggerogoti hidupku
kebengisan masa lalu,
bagai benalu yang tak tau malu,
bertapa diganglion sarafku, sekarang dan selalu,,

aku tak ingin berlama-lama disini

Aku ingin berlari, melompat dan terpental ke segala arah,

Dengan bringas dan berontak membucahkan darah,


AKU TAK INGIN BERLAMA-LAMA DISINI

Tak sedetikpun jiwaku terbaring diraga,

Atau sehembus nafas terbekas di jelaga

Yang menerawang di perapian

Sekedar pencerahan untuk bertahan


Tak sudi aku dipaksa,

Dan tiada minat aku memaksa

belulang ini untuk menopang,

Segala keberatan yang dibebankan


Enggan , sungguh aku sungkan,

Rusuk ini terus menyimpang

Menusuk hati, merobek jantung,

Jendral aku ingin tiarap,

Terlelap,

Bukan hanya sekejap

Tapi sedekap

Kebebasan tuk menyudahi perang,

Selongsong senapan telah membidik kearahku,

Dengan pelatup pada kiri tanganku

Sebuah granat siap meledakkan aku

Dari lemparan tangan kananku

Aku tidak ingin terbunuh


Jendral,,

,, aku tak ingin berlama-lama disini


Tuesday, September 15, 2009

suatu nanti yang pasti

Aku melihat sebuah besi berbaris diatas pasir jingga menghadap ke tenggara, membelakangi dinding yang menelungkup ke barat daya, aku menyapa pagar yang berdiri tegap di timur laut entah tuli atau sedang kalut, ia terdiam tak menyaut, lalu aku bertanya sepilar atap rotan yang dihiasi ukiran bambu yang menunggu runtuh oleh sehembus puyuh, apakah engkau sedang menaungi sesuatu? Karena aku perlu atap untuk meratap, dan aku pun berucap:

"Beri aku celah disudut dinding beton di hujan malam nanti,

Kukan memilah warna tuk ditampilkan saat ku pulang nanti,

Agar aku dapat meloloskan diri pada badai nanti,

Menikmati warna pelangi ciptaanku nanti,

Bersama dirinya suatu saat nanti,

Hingga akhir suatu zaman entah, namun pasti!!!"

aku wanita, dia pun iya

Andai ku tak punya hati, hanya sebilah belati,

Kan kucabik toleransi ini oleh keegoisan sejati,

Keegoisan tuk memiliki tanpa harus menanti

Dia melebur dirinya terjebur jurang patah hati,

Sama sepertiku, sama seperti melati,

Yang terpuruk tertatih,

Tersungkur tanpa letih,

Dia,

Kutahu dia wanita,

Kutahu aku wanita,

Aku tak punya dusta tuk dikata,

Aku tak sebegitu kejam untuk mengancam,

Dia,

Dia yang wanita, (aku tahu)..

Aku yang wanita,, (sudah tahu)

Tak ingin kejam berdusta,

Berkata dengan mengancam:

"Tinggalkanlah dirinya,

Karena dirikulah untuknya,,"

dia himpunan mereka

Jujur, tak penah sedikitpun aku meragukannya,

meragukan cinta dia punya,

Bahkan ketika aku membicarakan mereka,

Hingga tersadar kusalah,

Tak pandai menterjemah,

kudapati ia adalah sebagian dari mereka . .

Apa itu?

Ini adalah wujud lain dari yang mereka sebut cinta?

Atau merupakan penyimpangan atas pembenaran dusta?

Apa itu?

Ketika menghalangi untuk pergi,

Menghalauku untuk berlalu,

Apa yang direncanakan?

Apa yang dipersiapkan?

Bukankah saat itu mudah untuk berpisah,

Tanpa harus ada yang berdarah,

Terperah luka dan amarah ,,

Aku memang tidak punya intan sebagai jaminan,

Bahwa cintaku akan selalu tersimpan,

Hanya untuknya, rusdian,

Aku memang terhalang jurang ,

Memisahkan cara pandang,

Dan mengaburkan penginderaan,

Akan cinta terhadap relita,

Selama ini aku tuli dan berusaha berlari,

Yang hanya bisa kusesali dan menghukum diri,

Untuk saat ini, walau tiada arti lagi kini,,,

Untuk apa berjanji dan bersaksi,

Jika cinta bertransformasi,

Setiap musim yang berdurasi . . .

keinginan yang terbuang

Aku tak berdaya, aku teraniaya,,

Sepi ini terus menepi,

Menghipitku dan mengapitku

Dalam ruang rindu yang sendu,


Banyak madu mereka tawarkan,

Namun tak ada satupun yang menawarkan,

Luka hati akan pengkhianatan

Yang berulang dan berkelanjutan,,


Aku jengah lagu cinta

Yang selalu bercerita

walau susah dan derita

kan setia hingga menutup mata,,


Akankah ku kan berlalu?

Menghunjam kepedihan bagai benalu

Mengembangbiakan pilu

Tanpa rasa malu


Atau ku kan merebah,

Semua resah dan gelisah

Agak ke tengah

Agar lenyap, lekas musnah ..


Semua yang kuinginkan

adalah semua yang kubuang

Hanya dirindukan ...

sepenuhnya yang tersayang

Monday, August 24, 2009

pengakuan patah hati

Biarkan diam ini membebam sunyi,


Dibaliik sekam sepi tenggelam,


Didalam lesung rindu terpasung,


Biarkan bulan segera menahun, agar kelak jam dinding berdetak hening,


Lengkap sudah pengakuan ini, pengakuan patah hati, yang merantai jari-jari waktu untuk berputar dilintasan yang bertanya-tanya,

"jejak siapakah gerangan yang sudah membekas ini?"

aku adalah dia

Dia buta dengan arah, arah dimana gurun pasir terhempas keping ilalang yang mengeras batang hatinya, tercuci fatamorgana kolam dalam, begitu dalam menenggelamkan mata angin sehingga ia buta, begitu seperti yang dikutip angin ketika terbawa arah yang marah membisik di telingaku, telinga aku yang adalah dia,,


dia atau adalah aku yang tak tahu arah tak tahu serta apa yang harus diperah dari semua peristiwa yang bertandang di tenda ruang tunggu pada suatu waktu zaman batu, zaman dimana semua perkakas diselimuti debu yang mengotori fungsi dan aku mulai sangsi atas kekerasan hati yang meranggas ketika zaman es mencair dan mendinginkan kesepian itu. Kesepian yang minta dirangkul oleh pelukku.


Entah aku ini kemana, dimana benda yang aku mau dan apa bentuknya? Atau mungkin bagaimana tujuannya? Aku tidak mampu mencerna teka-teki yang membuatku tersedak dan tersangkut dikerongkongan yang menanti ditelan atau dimuntahkan,, aku tidak paham menterjemahkan makna yang tersembunyi dibalik iris mata ini yang membuat pupil membesar dan menghalangi pandangan ini, pandangan akan masa depan oleh bayangan masa lalu.


Apa yang dirasakan oleh bintang ketika malam tertahan oleh siang yang panjang?

Apakah pelangi sudi menunggu datangnya badai yang memporak-porandakan ketenangan, membanjiri kedamaian agar ia muncul menyusul sore sebelum senja menjelang?

Biarkan matahari terbit di timur dan terbenam di barat, yang menerbitkan keceriaan dan membenamkan kemurungan,, yang diusung oleh burung camar yang tersamar oleh goresan oranye muda di ufuk kejora itu.

gelap yang mengendap

Aku suka dengan gelap, saat kenyataan terlelap dibekam mimpi-mimpi malam,, tak ingin terjaga dikawah jelaga yang menerangi asa mengangkasa di langit udara,, udara yang mengoksidasi mimpi untuk korosi dan basi, usang, meski musang menerkam ayam tuk tak berkokok membangunkan siang,, saat jalang bersaksi lajang,,


Aku antusias dengan malam, saat kehidupan terpejam dikelabui bunga-bunga harapan, harapan yang meninggi seiring cinta terbagi-bagi,

oleh pagi yang mencerahkan,

siang yang menghangatkan,

dan malam yang mendamaikan,

agar harapan tak terbenam ditelan kehidupan,


Aku ingin cerita dongeng malam sebelum tidur, menemani senja yang terkubur di ufuk timur, aku ingin waktu bergerak mundur untuk setiap kata yang terlanjur,,


Ceita indah sebuah ilusi,

akumulasi amarah dan kemudian sedih bedifusi,

hanya sekelumit kecil potongan cerita yang terbungkus kertas nasi.

Friday, August 14, 2009

siapa?

Bintang bintang meredup karena tersapu hujan tangisan,

Bunga-bunga layu dengan tatapan sayu berdiri cukup tegak dihantam bandang semalam,

Tanah ini masih basah masih resah,

Akan kisah yang menyerah, pasrah terhadap gelisah atau gelisah karena pasrah,


Merah, merah, merah, aku mau merah, yang berdarah,,


Pheeeew,


gerahhhh,,

panas,

aku merah,

kepanasan,

aku gerah berdarah-darah,,

ada merah yang panas karena berdarah kegerahan,,


Aaaaarghh,,

Ada a setelah b tapi c ada untuk benci, karena jika tidak ada c itu hanya untuk beni, lalu aku untuk siapa?

mengejar dikejar

Kata-kata itu berkoar-koar dalam lirikku,, apa yang harus aku lakukan?

Karena semakin aku berontak, semakin ia berteriak,

Semakin aku hendak mengelak, ia terus berkata tidak,

"Kau harus kembali, kau harus berbalik,,"

Kenangan-kenangan itu berlalu-lalang dalam ingatan, apa yang harus kulakukan?

Karena semakin ku menghindarinya, semkin ku dikejarnya,

Semakin ku mengacuhkanya, semakin ia bertanya-tanya,,

"Mengapa kau tak kembali, tak berballik,,"

Lalu aku menjawab,,

"Kenapa aku berontak, dan terus mengelak? Karena ia terus menghindar dan mengacuhkanku,,,,"

Kamis, 12 Agustus 2009


22:58 PM

Kesepian ini bagai sebuah bubuyutan dalam sebuah lorong hatiku yang agak terpiggirkan, oleh kain sutera benang emas yang mereka pintal, tepat dibelakang bahu, dibelikatku,,


17:23 PM

Asa itu,,

Harapan yang merupakan sebuah hanya,,

tak ingin aku berlebih untuk itu, berlebih untuk berasa,

Kutahu aku adalah seorang hanya,

Seorang untuk berasa tidak untuk memakasa,

Hanya,

Cukupkah dengan sebuah hanya dalam berasa???


03:59 AM

Penantian itu, ,

Perubahan jalur pencarian tidak akan mengubah tujuan,

Namun apa yang kita nanti? Aku cari? dan kau tuju?

Tapi bendera terlanjur berkibar, penanda kereta telah berangkat,

" wahai bapak beseragam necis berambut klimis serta berkumis tipis,

dimana letak stasiun terdekat pemberhentian pertama? Karena aku akan menjemput jiwaku yang telah saja berangkat" tanya seorang gadis seraya menunjuk kearah sebuah kereta yang ekornya masih terlihat di lajur3 stasiun tersebut. "kenapa kamu tidak berangkat bersamanya saja?". "tidak, mungkin ia tak tahu akan membawaku kemana, tapi kemanapun ia akan melangkah tanpaku, aku akan selalu menjemputnya, menyambutnya pulang",

tidak adil merasa kerdil

Kadang aku merasa kecil,

Merasa tidak adil,

Perasaan kerdil ini mengecil,

Dan terus menyentil,

Sakit bukan pahit, memagut dan menggigit,

heyy, aku tidak sedang merakit kehulu, jadi tidak ingin bersakit-sakit,, aku hanya ingin ke tepian, karena tidak tahan selalu terkucilkan,

Siapa yang hendak turut, nenek moyang melaut,, kepulau yang terangkuh hanya dengan sekali atau dua kali mendayung..

Aku bosan dalam tempurung, bagai katak kehilangan induknya,,

Baiklah,, walaupun hanya setitik, aku tidak akan berkutik, akan hujatan dan cacian sebelangga,,

Thursday, August 13, 2009

tak ada judul buat sajak ini

semua kosong semua bohong, tak ada isi hanya basa-basi, sakarang musiman, basok kedinginan, kedinginan rindu yang sendirian,, nanti jemu kemudian semu, semu yang usang bercampur sendu hanya mengadu dibalik perdu,, malu,, aku mau palu,, yahhhh, palu,, smoga menimpa kepala itu,, kepala para benalu yang hanya singgah lalu berlalu membawa seluruh sembilu yang kubeli minggu lalu. aku beli dekat peternakan keledai,, keledai bodoh,, yang melompat-lompat seakan ia tupai,, padahal sepandai tupai melompat ia pasti jatuh juga,, palagi keledai yang bodoh??? hahaha,, kasihan, sudahlah, kita tinggalkan saja tupai dan keledai,, mereka tau akan hidup mereka, jadi tak usah diajak melompat untuk membaca sajak ini,, mungkin bukan sajak sebenarnya, tapi hanya tulisan biasa yang aku namakan sajak,, tanpa pajak atau retribusi, tak ada kongkalikong atau kolusi, sajak,, sajak yang tak ada narasi, karena ini hanya basa-basi, hanya omong kosong, jadi ini bohong?? yah,, ini bohong,, ini hanya musiman,,, karena aku kedinginan, merindu dan sendirian ,,

andai saja ..

andai aku bisa menghalau hembusan angin yang berbisik lirih, menyibak pendirianku.
andai aku bisa membungkam burung berkicau, mengacaukan pertahananku,,

aku bisa menari dengan not balok serta meluncur dibaris tanga nada, memadukan irama dan menyelaraskan pandangan yang sebelumnya timpang karena keegoisan . .

Wednesday, August 12, 2009

pelepasan

aku yang papa, melabuhkan sandaran dalam nestapa,,
aku yang alpa, membiarkan pelukan terhungus dupa,,
lebur menjadi debu lusuh menjadi peluh,,

esok lusa aku lumpuh, sebab cinta yang meluruh, luber meluap kabin kemudi, menghempaskan lokomotif cerita ini dimana hasrat lugas kini luntur meluap darah melumat lisan berujung di selokan.

aku yang sepah, ditempa senyap yang terus merayap, menerpa masa yang terkulai dibingkai harinya yang terkoyak diserpihan peradaban kikuk. kikuk untuj berkilah terhadap lidah yang terkikis celotehan sundal,
aku yan pahang, diserang kebusukan kosakata, kosakata payah dalam asuhan jaman, yang melintasi pikiran manusia yang memahat emosi tergurat diparas wataknya.

dan sebuah riwayat tentang aku takkan ada narasi ditiap barisnya, karena hanya akan ada retrospeksi dicatatan akhirnya,,
tiada lagi kisah, tiada resah, entah menyerah atau pasrah ,,,,,

kenapa antara aku dan kamu?

kenapa aku?
slalu aku yang memugar puing-puing pukal kayu yang pukah, terguncang puyuh yang riuh?
kenapa aku?
hanya aku jadi pangelasanmu yang pengkor mengemis pelitur pintu hatiku, wahai panembahan?
kenapa aku?
yang membiarkan angan ini lepas bergumul dibulai kapuk yang membujal membuncah dipekarangan langit, kubegitu alit, dan inilah sederet gurit yang terkelupas dari kulit yang menganga tercabik parit sang durna ...
kenapa aku?
jadi belang-belang kecil yang memburamkan damai digalangan daksina? karena aku ke utara dan dia ke selatan, tak akan ada titik pertemuan bumi dan langit, tak akan berhimpit kiri dan kanan, mereka kan slalu berjauhan kelak bersebrangan.
kenapa kamu?
menderaku begitu derasnya menyengatku begitu sangat dan menelantarkanku memandangi derap langkah lepergianmu,,

Tuesday, August 11, 2009

pegasingan pecunddang

Keluar dari kedung hitam penjaga liang,, liang hitam dalam keropong kohong, tak bertuan lagi bertuah,, kumpulan pecundang yang hidupnya dijarah,,

Mengerak, terlucuti sunyi, diam memborok siang, hingga senja tak bisa bertandang,, karena malam sudah jalang, tak lagi lajang,,

Para kuman berkerubung dan terkesut ,,terungsikan atas keberadaanku,

Lalu aku mengalah, aku kalah, aku pindah,,

Tapi kemelut ini terus mengepung ku dalam keterasingan,

Terus mendesakku tuk terpinggirkan,,

Bagai ampas yang terus mengendap kebawah,

Tercampakkan gravitasi,

Dimana aku entah,

Hanya berteduh dibawah bayanganku, berjalan menapaki jejak yg kulukiskankan dalam mimpi,, yah,, malam ini aku kelusuh, seluruh peluh berkubang dibadanku, mencoba menemui angin agar terhembus ke utara, merodong mengikuti anjing melolong,,

Aku,, terbuang…… menghilang di prostitusi malam,

Tanpa proteksi, tanpa proyeksi,,

Saturday, August 8, 2009

balik arah kebalik??

Aku telah melangkah sejauh lereng menyelami bukit, setinggi lembah mendaki langit, seluas bumi menggapai samudra, tapi apakah aku harus kembali untuk menjemput lamunan yang terhapus tangisan, terhempas lirih yang meringkih dipurnama pertama??? Hanya unuk mengusung ilusi yang berfusi, teragresi emosi, terabrasi ombak kemurkaan, tererosi okupasi ego yang kokoh meski teragitasi cemooh,,

Jujur lamunan yang tersisa masih ingin kurangkai pada tangkai yang baru, ranting yang biru, kelak ku akan sematkan pemanis pada kuncupnya,, agapr kupu-kupu bersewaka menghidangkan sari-sari madu,, ditempat ia mengadu,,

Hmmm ……..

Aku suka, tak tersiksa,, tapi apakah siksa itu, siksa yang kurasa pada saat menyisir sungai, terperangai hanya karena hasrat yang begitu perkasa,, tak berdaya ku terpedaya,, itu dosa!! Tapi seyogyanya itu biasa,, terkalahkan jaksa pada persidangan selasa, pada lima lebih sembilan dengan ketukan palu hakim hyang kuasa,,

Ahhhhhh,, aku jengah,, lelah, resah, tapi tetap sedikt pongah!!! Hahahaa, itulah aku, makhluk kecil yang tengil, kata orang agk centil ketika pujaan hati memanggil,, tapi sangat sentimentil pada orang yang jahil,,

lalu,,? Itu saja.. Biarkan berlalu, walau tak selalu berakhir sendu nan pilu, pilu yang amat haru bak teriris sembilu, aku tak acuh malu membelah benua, dimana cinta itu kan menua,,

gemuruh jiwa

Gemuruh itu datang datang bergumul tanya, memekakkan pupil mengendus luka, luka duka berbaring lumpur sukma, yang bara pun enggan menguapkannya,,

kering jauhlah dari panggang yang lenggam hitam bertopeng arang ,,

Enyahlah!!!!

Muak kau telan, tembolokku tak sudi mencadangkan sebagai sumber mata air dahagaku, sumber air mata tangisanku, sumber air mata air dimana mata itu bersumber, mungkin yang runtuh oleh gemuruh itu atau yang bergemuruh karena reruntuhan itu,,

Sesak!!!

Pengap kau hirup, mencekik urat saraf ku menghelanya, menghempas dengan diam di bibir malam. Tak ada kata terujar tak sehuruf terlontar, frase pun tak sanggup menjabarkan makna itu, makna dibalik tudung bambu, yang kau tancapkan di tanah pembebasanmu, pembebasan atas harkatmu, harkat atas hargamu terhadap diri menilaimu atau bahkan membayarmu seluas petak tanah yang kau anggunkan, gadaikan selama kau tak mampu menebusnya bahkan hidupmu atau cintamu, selama itu pula riak kecil diliurmu terus merejam, sehingga takkan ada ucap tuk mampu merangkai kata, berbaris dalam kalimat, berparade tiap paragraf yang akhirnya bersimpul pada satu alinea, satu cerita tuk melelapmu dipenjagamu,,

Thursday, July 23, 2009

Vaya con Dioz!

My mind is bombarded brutally with suspicions, anxiety, despair, rage,, it begins creeping into my mind, rushing through my blood circulation and inhabitating in the chamber of animosity.

It is gonna let up endurance bit by bit,,

i am trying so hard to chase it away, though it makes a scar on my heart, it is way better than broke my heart and make it torn into pieces.

Hmmm, i aint got find it quite sure that i have a prayer to win this battle,,

Vaya Con Dios girl,,

Kudapan Hari

Menyeruput secangkir waktu ditambah setengah sendok kejengahan menambah aroma kenikmatan menggauli hari

Kadang bolu lapis senyum legit diiris dua dengan:
setengah dibelah amarah,
seperempat penuh umpat, sisa
seperempat buat kerabat,
menggiurkan hari yg bermimikri * sering kuning kala berdamping * entah merah naik darah * atau biru mengharu deru * kendati hitam bukan langgam bukan berarti kelabu berabu-abu *

Hanya pelangi sanggup berdikari, sedia menari dihujam artileri, kukuh terpatri menghantam kavaleri, tidak bermimikri atau harakiri, tetap mejiku tidak dulu ungu ataupun biru, namun terus berlalu ke hibiniu.

Tersesat

Mengapa kau menghindar mendaki pagar terhadap barisan kata berkoar blokade frasa berkelakar entah gahar berpendar kian leleh memudar Tiada jalan kau tahu kala stasiun menuju terminal mengadu otot peluh berpadu mungkin Utara tertuju
Timur Barat beradu barangkali Selatan dibalik perdu barakbarak serdadu atau kau lempar dadu menapaki tangga mengejar madu hindari ular menjaja empedu Kau tersesat bergeliat bergulat dengan niat bersanding lalat gegas berangkat tiada beralat hendak kau rehat gurat paras pucat urat tak bersemangat minggat tinggali penat

Syair mana yang diulang???

Dia terjatuh.kau melempar kosong.Dia terbanting.kau menuang semu.Dia terperanjat.menadah isi segaris bayang.Dia tak tergelincir.mangkir ke pinggir.tersudut syair.baitbait menyihir.
dia berjalan seraya lari.dikejar jangkar mengejar.diserambi sanubari,ingkari sapa hang fajar.
dia terapung, berternak capung.terombang-ambing ombak.sesaat badai rampung.menyekap capung.mengguyur dibak.sulit mengelak.tengkulak.hibahi bidak.skak!!!
Dia tertembak.kau terbahak.congkak!Hulumu bengkak!Biar, lekas katarak!
Dia didepak.dilapak lapak.pelakon jalan perompak.
dia pulang.kau bersulang.entah lirik mana yg akan diulang??

Terteror Fobi

Hmmm, tersadar setaun sudah masa suram berlalu jatuh tepat pda bulan ini, kini kecemasan mulai menggerogoti dinding pikiranku.
Sudah kali ke sepuluh setelah mengamati prubhan fisik yg tampak begitu nyata bagiku tp tdk bagi mrka, dengan sekuat2ny aku menarik nafas panjang, merasakan penuh resah tiap hembusan yg melampiri, mencoba meredam kekhawatiran yg berkecamuk konsentrasi, dan mulai melahap separo waktu yg tdk pernah kusediakan untuk itu.
Capek!
Kata itulah yg bs merepresentasikan aku sekarang.
Jujur, jauh lebih banyak menguras energi berpacu melawan "fobi" ini drpd marathon 5km, atau harus berpeluh mengayuh sepeda ditengah hari.
Berulang kali mengujar litotes sekedar untuk melibas kegusaran hati yg lejar agar lenyap, lesap tergerus arus. Dan berharap logika tetap berada dikoridor yg semestinya, tidak terhasut berbagai fuad yg berfusi. Amin.

Catastrophe

in the night of summer
we yelled out each other
you slammed that fuckin' door
threw all things to the floor

u got mad
i knew it's bad
i was sooooo sad
'cuz you cut me dead

i was so taken aback
u fell down and ran amuck
ouch suck ,,, what the fuck
i think it's down on my luck

i feel low
full of sorrow
and for now
i wanna get my pillow

after all
you're my all in all
for good and all
never occured to my mind
you did that but it's fine
everything has settled down
let's put head down
let bygones be bygones

fdct

ever in my lifetime, i'm so lonesome,
got nowhere to go,
i barely eat, scarcely speak,
i ain't got find no place to rest,
i am so tired,
and got bored,
my life is blue and turning red,
i mad at nobody,
'cuz i have no buddy,
i hate my fate,
but it's too late,
'cuz already born,
and my life's so worn,..

belas

ku keluar dengan jarum panjang dua belas melebihi sepuluh ketukan perputaran waktu dari liang yang terkubur puing-puing jamblang,
berjalan di tepian padang yang sebelumnya rimba tertutup ilalang,
mengukur lintasan sembari tengok ke belakang menghempas sisa-sisa proses hidup bila mendarat dilandasan kaca kutampak terlihatnya, belang ...
bertemu undakan batu menjulang,
diatapi pun bernyawa,
kucoba mengisi perut didalamnya,
tertidur dialasnya, ...
malam itu sungguh panjangnya tak sekalipun ku memejamkannya,
dan berlanjut keesokannya, ...
kufikir hanya aku tahu itu,
itu yang kusembunyikan,
tahu kularikan, ...
entah sebaiknya ku pulang saja dengan sembilan enam belas waktu digital, ...

Companionship

As long as i have a bunch of buddies,
i will never be loveless,
bossom friend will always be there,
when i need a little care,,

they cheer me up, buck me up, they say stand up, we can make it up,,

so just smile up, put ur hands up, don't u give up, we can pop pop pop pop pop it up!!!
((:

Artificial Love

How long i have to wait,
i truly want to get this straight,
i cant't stand with all this fight,
make me upset and desperate.

I've pretend and lied to you,
that everyday i crush on you,
but i'm sorry it can't be true,
cuz all my heart nothing left he took,

i love him and love you not,
but i wont to make you hurt,
i don't wanna be a hypocrite,
so we'd better off separated ..

Hopelessly Lost

I'm fragile, i'm reptile..
Crawling in the path that i've choosen.
With a story without title..
Acting in the stage that i've written.

hestitate....
It always screw me up when i concentrate.
Desperate....
I hardly can think clearly it's the most i hate.

I need someone who help me up,
i need someone who light me up,
i need someone to make this up,
i need before the time is up...

I hope somewhere someone will come, get me grab me take me home,.
I know somehow someday it'd come,.
dignity, serenity, eternity,.

Trivial

Long time no hear from you,
suddenly you're back say i love you,
you asked me whether we will get this true,
you and i get through the life by two..
I don't know what i'm gonna say,
this fucking thing get me to die,
maybe you have to take your way,
just leave me and say goodbye,

you know i'm not available,
no longer single,
but now i'm double,
so it's very impossible,
even i have to admit that you're so incredible.

You're my past and not the future,
even you've became a new figure,
frankly speaking it doesn't cure,
my broken heart and its texture...

Delirious

Awan kelabu hitam kembali menutupi rangka kayu usang ditopang batu koral yg harus menahun untuk tumbuh tiap panjangnya.
Dengan kesabaran ia merajut nilon emas si itik untuk terbang ke utara menyusul harapn yg tertiup angin muson iklim kemarin, untuk menjadi sang angsa.
Badai pun tak jua lepas mengkaramkan kapal pengampunan yg telah berlayar melabuhi pulau pengorbanan ditengah ketulusan matahari yg selalu menerangi tanpa imbalan. Meskipun beristirahat sejenak sang kekasih bulan tetap setia menggantikan cahayany kala malam menjelang. Keredupanny menjaga setiap nokturnal melangsungkan hidupnya ditengah penyimpangan ketidaknormalan regulasi alam.
Apakah pelangi muncul membiaskan pantulan harapan bumi dengan gradasi warna penuh makna. Berharap bunga bersemi ditengah meranggasnya daun padang kekecewaan yg Gersang dengan kaktus menusuk musafir yg bermataforgana.
Dan akhirny penantian terhadap mata air penyegar dahaga akan harapan baru tiba agar tidak mati mereka yg terseret bandang menghanyutkan semua asa.

Delirious part II

Dibalik belikatku kau membidai waktumu memintal untaian harinya untuk bersinergi melumpuhkan aku.
Terengah ku mendapati kau sedang mencabik bangsal hati yg kau paham benar itu penimbunan cadangan nyawaku.
Kapak digenggamannya merobek tepat palung jiwaku yg menggema menasbihkan namamu disetiap debit darah aliran pusaramu.
Ketidaksadaranku membius logika yg bermuara ke lembah nirwana para batari menari, menenggelamkanku dibendungan air mata.
Tak sempat tertegun memuji arakan serdadu diiringi gamelan sendu karena tlah terkremasi sebelumnya oleh persembahan di malam rabu.

Delirious part III

Terhanyut dipantai bersembunyi dibalik tabir hitam yg menghempas tongkang, menggiringku terdampar disebuah nusa pengasingan aristrokat yg mengejawantahkanku tanpa eksepsi bagai desertir yg menari berselimut dewangga.
Tertawan ditapal batas penalaran yg tidak mentolerir kealfaan yg berepetisi.
Ingin sekali meredam genderang amarah yg bermutasi kebencian, mencegah akarnya mencuat keluar menjerat hati yg nirmala.
Noktah merah yg terlanjur mengotori paras, tak mampu memudar hanya dengan usapan kain motif kotak, yg mengkotak-kotakan kesalahan dengan ruang dimensi waktu.

Satu Lima Belas Siang

Terdiam menghitung mundur detak jarum dinding usang berdentum berirama disebelah ruang kosong yg tak bernyawa namun bukan laba-laba murung dibalik bayangan kesendirian, merajut jalanya menghiasi atap rotan bilik bambu membantah keberadaan kesunyian akan kehampaan.
Termangu terbias dian surya yg mulai meninggi menghangatkan ragawi terkapar kaku, melelehkan lidah terbujur kelu, tapi tak jua mencairkan kepekatan konsentrasi jemu yg terlampau jauh menyebrangi garis pertahanan titik jenuh.
Terkecoh dengan euforia semu yg berkamuflase menjamu kepenatan yang sejatinya tak lekang hanya memanjakan pikiran meluangkan kamar tuk diinapi angin yg membawa ketidakenakan.
Lalu bagaimana caranya mengusir ketersendirian yg melekat erat dan terasa berat kala kekosongan hati pun turut bergeming meminta untuk ditemani.
Keyakinan itu, harapan akan pelita pencerah jiwa masih tetap hidup walau tertimbun dilorong bawah alam kesadaran terkucilkan oleh keegoisan yang lalai mensyukuri kenikmatan yg mengalir dihembusan nafas tiap kali mengejapkan mata.

Aku di Hariku

Desiran angin terdengar lirih menyipak lembut rambut kusut, terpaut baut terbalut rajut lumut berkalut, mulut diam tersulut bungkam menambah lengang kesunyian malam nirtemarang.
Aku, Senin, terbawa angin.

Membebaskan retina dibias rona warna pena mencerna makna hiragana, suasana laksana tektona merona pipi durjana, sesaat Rusdiana mempesona diatas pelana.
Aku, Selasa, belajar bahasa.

Terhanyut disudut utara timur laut surut, merenggut urat-urat pesut berdenyut, turut mengerut siput berlutut, berlendir, khawatir secangkir jamuan padang pasir, mangkir mengusir kejemuan berladang kasih sayang, berlabuh di Monas untuk berdinas.
Aku, Rabu, sedikit kelabu.

Sebongkah es mencair membasahi pelupuk atmosfir mengalir ke hilir bumi menjelma tangisan mumi, belasan kodok berirama menyambut lesung kembali menggaung, menyayat kulit benih merintih saat sawah bergairah menguburnya dalam tanah bersimbah darah yg tidak merah, rintik air detik terakhir memasung niat yg sebelumnya membahana mengingat sulitnya katakana.
Aku, Kamis, hujan gerimis.

Waktu seakan membatu, agak malu atau terkesan pilu, berjalan merangkak sesekali merondang, namun tercengang hingga berontak, mendapati detiknya berlari menghindari menit yang seakan genit, menghantarkan salam kepada si jam, untuk padam lebam tenggelam.
Aku, Jumat, tak bersemangat.

Menorehkan gincu diatas senyum berkembang yg terpantul cermin terpajang, merefleksikan kegiuran sukacita yg tertahan penjara waktu dengan penjagaan kesibukan maksimum superketat, membebaskan kerinduan tanpa remisi, mengobarkan amunisi gelora asmara, menghempaskan evolusi rasa, menggemparkan galaksi, berotasi, merealisasi fantasi dunia imajinasi manusia.
Aku, Sabtu, Menjadi satu.

Tak ada yg terlukiskan, terfikirkan, terucapkan, terdengar, terlihat, terasa, tertoreh, tertulis, tersirat, terbayang, terkenang, hanya ada itu yang terungkapkan dan membuat semua terdiam.
Aku, Minggu, selalu terganggu.

Senja

Goresan oranye muda tampak bersentuhan lembut di hamparan biru tua, seakan bersetubuh dibatas cakrawala, memisahkan sisa cahaya benderang siang dengan lentera malam, yg setengah hidup setengah redup.
Menggiring burung hijrah ke barat untuk pulang beristirahat.
Guratan ekspresinya memaksa kapiten melepas jangkar untuk berlabuh,
atau sekedar membasuh peluh,
Senja,,,
selalu manja bila dipuja, di pantai selatan JogJa..
Terlihat manis bila mengangis, di sepanjang Pantai Parang Tritis,
suka berdusta kalau berkata, di Nusa Dewata Pantai Kuta.
Nuansa asyik tuk bermesraan, diromansa terbaik Pangandaran.
Senja,,
tak pernah bermuram durja,
diterpa kenistaan yg meraja,
walau tak sebebal baja,
kaulah senja, mahkota Raja...

Wednesday, July 22, 2009

Erupsi Emosi

Untuk kali kesekian di bulan Juli, lava meluapkan murkanya.

Lahar panas meleleh dibibir manisnya, mengguncang hati kala luapan tak tertahankan. Menumpuk hingga mengerupsi kesabaran. Menyusup keluar menyuamkan muara air mata, mencairkan dan membasahi dipelupuknya. Mengaliri bukit kekesalan, melewati kaki gunung hingga menjamah ke lubuk lembah gelisah.

Lereng terjal tak sanggup menjegal muntahan kerikil tajam dari mulutnya.

Kabut asap pekat mengaburkan logikanya.

Serpihan abu mengotori bening hatinya.

Bara emosi kian membakar perasaan yg panasnya menghanguskan lalu mengemulsi cinta dan benci membentuk kawah triwarna:
Merah,
untuk kesabaran yg menyerah, pasrah, lelah akan amarah, terserah.
Hitam,
untuk benci yg naik pitam, menghantam tembok mataram, ambrul tenggelam begitu dalam.
Putih,
untuk kesucian cinta yg tak letih mengawal tuk setia gigih tiada beralih, sedia kokoh menjadi sandaran hati yg luput dr noda pengkhianatan yg mengusik dalam lirih.

Perjalanan lava dr hulu senantiasa berakhir di hilir.
Dimana ia kan menyatu dengan air, sebagian membatu dan menjelma pasir.
Ia kan mengalir berpadu dengan ombak menghempas tebing pantai. Ia kan mengeras menjadi alas penghias terasteras istana. Ia kan menjadi bagian gedung menjulang pencakar langit. Ia kan menjadi bagian keluarga sebuah rumah, menjadi bagian agung gedung2 sekolah, menjadi perekat batu nisan dipersemayaman keramat, jg menjadi saksi pelakon korupsi dibalik jeruji besi.

Tanah basah yg terus menangisi gemburnya ketulusan dibanjiri keegoisan lava, perlahan akan menumbuhkan kembali pohon pengertian yg tumbang tersapu terjangan lava yg berang. Kelak batangnya menetaskan ranting kepercayaan. Tiap ranting yg hdp akn melahirkan daun kebahagian yg rindang. Walau akan layu, kuyu tertiup angin lalu, akan tergantikan dgn tunas kebahagiaan baru.

Dan gunung pun akan memugar konstruksi emosi agar hidup serasi tanpa eksepsi.

FUAD

Gontai melambai selendang gamang, menyelimut kusut selaput kalut, menyelisir tiap jengkal kesal, menyayat pilu oleh sembilu haru.

Seloki wiski memabukan caci maki hingga terlontar keluar koridor altar.

Relung jiwa terbombardir renta bagai resimen melepas salvo membidik ke seantero Rio de Jenairo,,
palung hati terpasung belati serempak kepongahan merempuh nurani, senyampang sanubari singgah bersewaka sukma

Menyuluh pelita suargaloka meretas batas terusan Suez, membelokan dian temabur ditempayan, merefleksikan teja ke tempias tongkang. Menggugah Manyar mengayam sarang sebelum senja mengusung malam.

Kisah Jalak

Menyangsi jalak bersambut bumerang- tidak di Australia dikantung kangguru- melancong purnama di Arafuru. Jalak menyapit bintang tuk berenang di Oasis belang yang terasa biru berbayang surya, dn begitu ungu ketika bersembunyi diketiak purnama. Tapi sebelumnya ia hanya sebelah jadi agak merah, kadang ia sangat letih hanya bintang bintang yg berseloroh mencemooh Jalak berbedak.
Hahaha,
memang Jalak genitnya parah, merayu kumbang di lintasan orbit, mahfum entah ia, berjejal planet diparkiran galaksi berebahan dalam bianglala raya memandang ia menggelontorkan lawakan.
Bulan kini memunculkan senyumnya lagi mengundang kumbang hinggap dipipinya yg merona. Sontak jalak tersulut cemburu begitu hampa karena kumbang menghisap udara diputik bulan.
Jalak merana diGua Sembilan karena Satu Dua Tiga danau ia rengkuh, terlampaui telah pulau entah,tak kunjung empat lima enam dayung terkayuh ,., ia dipangku angin melipat tujuh nirwana pada langit kedelapan lantai sembilan dimana cintanya bersemayam.

Salah tangga nada waktu

Bergantung di penghujung kaki langit yg menghimpit mercusuar, mercusuar dengan orbit satelit waktu yg anjlok dilintasan rel. Menumpahkan balok-balok not yg berbaris melantunkan dentuman waktu-yg digubah planet dari serbuk asteroid, serpihan meteorit, bersimultan gugusan notasi- melipur lara dengan harmonisasi galaksi.
Sejengkal dari waktu bermain drama, bumi menanjak atap langit diatasnya, membiarkn lepas waktu bebas bergumul dengan bulai kapuk membujal di deretan tangga nada.
Sedepak dari pelataran langit, kuda meringik pada birama yg salah, terlalu sumbang untuk menyelaraskan kepala. 4/4!! Itulah yg selalu dibisikan angin lewat kicauan burung. Segembala, seternak, sekelumit irama.
Waktu terdiam sedetik, tapi semenit lbh lama, ia tertinggal, atau bahkan ditinggalkan? Bumi yg hanya berotasi pada porosnya, menghampakan sdkt ruang waktu yg tak berevolusi disabuknya.
Kelak ufo menyeret senja mengusir malam, waktu berjemur berpayung matahari, menguapkan airmata dilumbung sukma hyang waktu.