RUANG HATI DAN IMAJINASI

BERIKAN HATIMU RUANG DAN BIARKAN IMAJINASIMU DATANG

Tuesday, September 15, 2009

suatu nanti yang pasti

Aku melihat sebuah besi berbaris diatas pasir jingga menghadap ke tenggara, membelakangi dinding yang menelungkup ke barat daya, aku menyapa pagar yang berdiri tegap di timur laut entah tuli atau sedang kalut, ia terdiam tak menyaut, lalu aku bertanya sepilar atap rotan yang dihiasi ukiran bambu yang menunggu runtuh oleh sehembus puyuh, apakah engkau sedang menaungi sesuatu? Karena aku perlu atap untuk meratap, dan aku pun berucap:

"Beri aku celah disudut dinding beton di hujan malam nanti,

Kukan memilah warna tuk ditampilkan saat ku pulang nanti,

Agar aku dapat meloloskan diri pada badai nanti,

Menikmati warna pelangi ciptaanku nanti,

Bersama dirinya suatu saat nanti,

Hingga akhir suatu zaman entah, namun pasti!!!"

aku wanita, dia pun iya

Andai ku tak punya hati, hanya sebilah belati,

Kan kucabik toleransi ini oleh keegoisan sejati,

Keegoisan tuk memiliki tanpa harus menanti

Dia melebur dirinya terjebur jurang patah hati,

Sama sepertiku, sama seperti melati,

Yang terpuruk tertatih,

Tersungkur tanpa letih,

Dia,

Kutahu dia wanita,

Kutahu aku wanita,

Aku tak punya dusta tuk dikata,

Aku tak sebegitu kejam untuk mengancam,

Dia,

Dia yang wanita, (aku tahu)..

Aku yang wanita,, (sudah tahu)

Tak ingin kejam berdusta,

Berkata dengan mengancam:

"Tinggalkanlah dirinya,

Karena dirikulah untuknya,,"

dia himpunan mereka

Jujur, tak penah sedikitpun aku meragukannya,

meragukan cinta dia punya,

Bahkan ketika aku membicarakan mereka,

Hingga tersadar kusalah,

Tak pandai menterjemah,

kudapati ia adalah sebagian dari mereka . .

Apa itu?

Ini adalah wujud lain dari yang mereka sebut cinta?

Atau merupakan penyimpangan atas pembenaran dusta?

Apa itu?

Ketika menghalangi untuk pergi,

Menghalauku untuk berlalu,

Apa yang direncanakan?

Apa yang dipersiapkan?

Bukankah saat itu mudah untuk berpisah,

Tanpa harus ada yang berdarah,

Terperah luka dan amarah ,,

Aku memang tidak punya intan sebagai jaminan,

Bahwa cintaku akan selalu tersimpan,

Hanya untuknya, rusdian,

Aku memang terhalang jurang ,

Memisahkan cara pandang,

Dan mengaburkan penginderaan,

Akan cinta terhadap relita,

Selama ini aku tuli dan berusaha berlari,

Yang hanya bisa kusesali dan menghukum diri,

Untuk saat ini, walau tiada arti lagi kini,,,

Untuk apa berjanji dan bersaksi,

Jika cinta bertransformasi,

Setiap musim yang berdurasi . . .

keinginan yang terbuang

Aku tak berdaya, aku teraniaya,,

Sepi ini terus menepi,

Menghipitku dan mengapitku

Dalam ruang rindu yang sendu,


Banyak madu mereka tawarkan,

Namun tak ada satupun yang menawarkan,

Luka hati akan pengkhianatan

Yang berulang dan berkelanjutan,,


Aku jengah lagu cinta

Yang selalu bercerita

walau susah dan derita

kan setia hingga menutup mata,,


Akankah ku kan berlalu?

Menghunjam kepedihan bagai benalu

Mengembangbiakan pilu

Tanpa rasa malu


Atau ku kan merebah,

Semua resah dan gelisah

Agak ke tengah

Agar lenyap, lekas musnah ..


Semua yang kuinginkan

adalah semua yang kubuang

Hanya dirindukan ...

sepenuhnya yang tersayang